Proses Komunikasi

Informasi adalah pengetahuan yang didapatkan dari pembelajaran, pengalaman, atau instruksi [1]. Namun demikian istilah ini memiliki banyak arti bergantung pada konteksnya, dan secara umum berhubungan erat dengan konsep seperti arti, pengetahuan, negentropy, komunikasi, kebenaran, representasi, dan rangsangan mental.

Dalam beberapa hal pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa tertentu atau situasi yang telah dikumpulkan atau diterima melalui proses komunikasi, pengumpulan intelejen, ataupun didapatkan dari berita juga dinamakan informasi. Informasi yang berupa koleksi data dan fakta seringkali dinamakan informasi statistik. Dalam bidang ilmu komputer informasi adalah data yang disimpan, diproses, atau ditransmisikan. Penelitian ini memfokuskan pada definisi informasi sebagai pengetahuan yang didapatkan dari pembelajaran, pengalaman, atau instruksi dan alirannya.

Selengkapnya...
Posted 2:28 AM by YNa | 5 comments

Reflection

Look at me, I will never pass for perfect bride.
Or a perfect daughter.
Can it be I'm not meant to play this part?
Now I see that if I were truly to be myself,
I would break my family's heart. more
(Chorus:)
Who is that girl I see
Staring straight back at me.
Why is my reflection someone I don't know
Somehow I cannot hide who I am,
Though I've tried.
When will my reflection show,
Who I am inside.

When will my reflection show
Who I am inside.

Artist: Christina Aguilara Lyrics
Song: Reflection Lyrics

Selengkapnya...
Posted 8:38 PM by YNa | 0 comments

Menulis Cerita Anak

1. Sebuah Ide, Sebuah Awal
Beberapa hari lalu saya sempat ngobrol di messenger dengan teman yang tertarik menulis cerita anak. Satu hal yang pertama ditanyakan adalah ide. Sebenarnya ini klise, dan tergantung pada banyak penulis. Tapi kalau boleh berbagi pengalaman, saya selalu menekankan bahwa ide yang harus saya kembangkan harus unik.


Saya kemudian meminta teman saya itu untuk menyebutkan sebuah benda. Apa saja yang didekatnya. "Bros," jawabnya. Yup, bros. Lalu saya tanya balik, bros biasanya dipakai oleh siapa? Betul, wanita dan orang kaya/mampu. Nah kalau kita bercerita tentang bros dipakai wanita yang kaya/mampu, itu jadi nggak unik idenya. Maka kita harus putarbalikkan kenyataan itu. Saya, tawarkan kepadanya, gimana kalau bros itu dipunyai/dipakai oleh bocah kecil yang miskin atau anak jalanan. Pasti dong orang akan heran. Dan dari keheranan itu, akan timbul pertanyaan yang akan menggali ide dasar kita. Kenapa bros mahal itu dipakai si bocah kecil. Apa si bocah mencurinya. Atau memang bros itu warisan dari ibunya, yang dulu orang kaya.

Dari sinilah sebuah ide bisa berkembang dan kemudian diarahkan sesuai dengan taste kita. (Kalau saya lebih suka mengembangkannnya sebagai sebuah cerita suspense/misteri).

Kalo untuk menulis cerpen saja, kita nggak perlu terlalu dalam menggalinya. Oh, iya... ada baiknya kita juga punya buku/atau mungkin melihat ensiklopedia yang berhubungan dengan bros. Mungkin istilahnya, jenis batuannya, bedanya dengan liontin, dll....

Semua itu bisa disisipkan dalam cerita kita. Apalagi kalau yang kita buat bukan sekedar cerpen (novel misalnya). Nantinya, buku kita juga dikenang pembacanya bukan cuma sekedar buku cerita saja, tapi juga buku ilmu pengetahuan tentang bross. cara-cara penulisan ini juga sudah cukup umum di buku anak-anak. Saya pernah menemukannya ketika mengedit buku-buku terjemahan dari Jepang, lho. Cuma.... ya jangan terlalu teks book aja bahasanya. Nanti malah bikin boring.

Oke itu saja untuk Ide. Mungkin yang lain punya proses kreatif yang berbeda untuk sebuah ide. Mari kita berbagi.

2. Trik Menggali Ide Cerita
Banyak beberapa teman yang baru memulai menulis cerita anak memberi contoh cerpennya. Beberapa menyodorkan tema yang umum, datar, dan nyaris tanpa konflik. Padahal tema cerita sangat penting lho.

Terus, gimana dong caranya? Pada teman-teman, saya akan sedikit memberi trik...:

1. Mulailah mencari ide dengan konflik. Hal ini akan memudahkan kita mencari greget cerpen yang kita buat. Sebagai contoh: Apa yang terjadi kalau kita melihat bayangan di rumah kosong depan rumah kita Bagaimana rasanya jadi orang bodoh di kelas? Gimana mengatasi problem, saat menjelang pesta ultah kita, tiba-tiba tetangga meninggal dunia?

Ingat, konflik itu mentah. Jadi kita bisa gali lagi, dengan mencari sebab konflik itu.... lalu penyelesaiannya. Misalnya: Rumah kosong itu sudah lama ditinggal. Si tokoh penasaran. Mungkin membangunkan kakaknya, atau langsung tidur, dll... Orang itu jadi bodoh, karena ia merasa pandai, dan merasa bisa mengalahkan anak kelas di atasnya. tapi ketika diminta duduk sehari di kelas enam, ia bingung. Karena semua memang harus lewat proses... Atau bisa saja pesta ultahnya diundurin, atau tidak jadi... dll
2. Mencari ide dengan mengamati benda (pernah saya kemukakan juga).
* Lihat benda di sekitar kita. Ambil contoh misalnya sepeda.
* Pandang sepeda itu dari sudut terbalik. Biasanya yang pakai sepeda kan orang sederhana atau kelas bawah. nah, sekarang kita bayangkan, kok ada bapak kaya tapi hobi setiap sore naik sepeda kumbang butut.
* Kembangkan dengan berbagai piihan: Oh, ternyata si bapak itu punya kenangan khusus, karena sepeda itu dulu pemberian temannya. Atau si Bapak memang berjanji sama anaknya untuk memakai sepeda itu, karena tidak menepati janjinya berhenti merokok di rumah. Atau lain-lainnya...
3. Ide biasa tapi tak basi. Banyak sekali pengulangan tema di cerpen anak. Misalnya saja tentang kebiasaan mencontek. Nah, biar tidak basi ide itu... maka kita harus berusaha mengemasnya dari sudut pandang yang berbeda. jadi ide yang biasa itu tidak jadi basi. Misalnya, biasanya ada anak bodoh mencontek lalu ketahuan dan dihukum. Sudah biasa. Gimana kalau ada anak pintar mencontek, dan ketahuan. Apa perlakuan guru sama? Tidak, misalnya. Itu saja dulu...

3. Dongeng : Cerita Tanpa Batas
Di awal saya menulis, mengarang dongeng bukanlah pekerjaan gampang. Beberapa kali naskah dongeng yang saya buat, batal saya kirimkan ke majalah. Saya pikir, kok karya saya tidak sefantastis dongeng-dongeng yang ada...

Kemudian, saya memilah-milah sendiri bentuk-bentuk dongeng yang dipublikasikan, yakni:

1. Dongeng asal-usul : ini bentuk dongeng yang sejak kecil saya suka. Di Indonesia, dongeng seperti ini banyak sekali. Mulai dari Sangkuriang, Dana Toba, Malin Kundang.... rasanya hampir semua dongeng di Indonesia berlatar asal-usul, entah itu suatu benda, tempat atau suatu nama. Oh, iya.... saya juga pernah membuat sendiri dongeng asal-usul ini. Judulnya Nyi Koneng, tentang asal-usul tanaman kunyit yang banyak manfaat itu, dengan setting tanah pasundan.
2. Fairy Tale : ini dongeng dengan kisah peri di dalamnya. Bagi yang pernah bisa membaca Cinderella, pasti bisa memilah mana dongeng yang bergenre seperti ini. Saya menyebutnya sebagai dongeng keajaiban. Soalnya di sini segala keajaiban bisa saja terjadi. Kadang negeri yang dilukiskan bisa dibuat sendiri oleh pengarangnya. Ya, di dongeng memang segala hal bisa dibuat tanpa memikirkan logika. Maklum.... kata Khahlil Gibran juga.... fantasi anak-anak tidak memiliki batas. Mereka bisa berimajinasi kemana saja dia suka.... Nah, bangga kan kalo sebagai pengarang justru bisa menggiring imajinasi anak-anak yang lincah itu. Nama-nama pengarang jenis dongeng ini adalah HC Andersen, Grim Bersaudara.
3. Fabel : Yang ini dongeng dengan tokoh-tokoh binatang. Dongeng jenis ini memang jauh lebih menarik kalau dalam bentuk cergam. Banyak gambarnya. Maklum... misi tersembunyi dalam fabel sebenarnya adalah mendekatkan anak-anak pada dunia satwa.... Saya hanya beberapa kali membuat cerita Fabel ini. Satu dongeng yang pernah dipublikasikan berjudul Kodi dan Komal, tentang dua ekor katak bersaudara yang punya sifat bertentangan. Untuk jenis cerita ini .... Walt Disney nggak ada saingannya.... hehehe.
4. Dongeng Kontemporer: Dongeng jenis ini merupakan perpaduan cerpen (baca: cerita realita) dengan keajaiban. Salah satu karya yang spektakuler pernah saya baca adalah Pipi si Kaus kaki panjang. Banyak menginspirasi saya menulis. Salah satu tulisan yang pernah saya buat berjudul : Prita dan pohon kenari. Cerita tentang persahabatan Prita dengan pohon kenari yang akan ditebang dari sebuah taman.
5. Tentu saja ada jenis dongeng lainnya.... di Indonesia ada Babad, kisah-kisah Panji. Beberapa juga menyebut mitos Yunani dan Roma itu berupa dongeng.

Tips ringan membuat dongeng:

1. Tentukan dulu jenis dongeng yang ingin dibuat.
2. Pikirkan setting waktu dan tempat. untuk meramaikan dunia dongeng Indonesia, saya sarankan untuk mengambil setting di Indonesia. Dengan latar budaya di Indonesia yang jumlahnya banyak ini.
3. Baru buat jalan cerita. Keajaiban yang ingin ditonjolkan (tapi gak selalu harus)...
4. O, iya.... buat beberapa penulis baru. perhatikan EYD. Tanda baca apalagi. Di toko buku, buku pedoman EYD ada yang murah kok... heuheuheu

4. Dongeng: Menulis ulang, menerjemahkan, mengadaptasi, & karya sendiri
Ketika hasrat saya untuk menulis dongeng muncul, saya agak kebingungan untuk memulai. Masalahnya, saya kerap melihat bahwa pada title pengarang, beraneka ragam bentuknya. Oleh seorang teman, saya diberitahukan tips soal penulisan dongeng tersebut. Di bawah ini beberapa hal yang saya ingat:

1. Menulis Ulang
Dongeng yang kita buat, bukan karya kita orisinal. Umumnya diambil dari cerita rakyat yang sudah sulit dilacak pengarangnya. Contohnya saja legenda Sangkuriang. Kita boleh-boleh saja menulis kembali dongeng tersebut, dengan versi yang mungkin lebih baik.
2. Menerjemahkan
Dongeng yang kita buat merupakan hasil terjemahan dari karya-karya asing. Bagi penulis pemula, menerjemahkan merupakan titik awal yang baik. Dari sini mereka bisa mempelajari berbagai hal, termasuk penggalian ide. selama dongeng itu baik dan belum banyak beredar, biasanya majalah/tabloit anak-anak mau menampung karya-karya terjemahan.
3. Mengadaptasi
Bagi sebagian penulis dongeng, sekedar menerjemahkan begitu saja mungkin kurang puas. Maka sebuah dongeng dari negeri China, bisa saja berubah di tangan penulis ini. Dengan memindahkan seting ke tanah jawa, mengganti nama dan tokoh yang berbau jawa.... maka lahirlah sebuah dongeng adaptasi. Tentu saja si penulis tetap dituntut kejujurannya menulis sumber aslinya.
4. Karya sendiri
Jika dongeng itu benar-benar orisinal muncul dari kepala kita, maka menjadi hak kita untuk mencamtumkan nama kita begitu saja. Tanpa embel-embel; dikisahkan kembali oleh, diterjemahkan oleh, diadaptasi dari.... Memang kadang redaksi agak ragu. Apalagi kalau dongeng yang kita buat mengambil seting di negara-negara nun jauh di sana. Untuk itu, di surat pengantar, kita boleh meyakinkan para dewan redaksi bahwa dongeng itu memang asli karya kita sendiri.

Lalu bagaimana dengan tokoh-tokoh dongeng yang sudah jadi milik publik? Sehingga setiap orang merasa bebas menulis tentang si tokoh itu... Lihatlah, dongeng si Kabayan, Abunawas, dan tokoh-tokoh cerdik lainnya. Nah, kalau untuk yang satu ini, sebaiknya kita kembalikan pada diri si penulis. Terserah dia mau menganggapnya sebagai apa..... Dikembangkan oleh si X atau diakui saja memang karyanya.

5. Logika; sebatas mana?
Teman-temin masih sering bertanya, sampai batas mana logika dapat kita buat dalam menulis fiksi anak... Apa wajar anak-anak menyamar? Wajarkah anak 5 SD menyelidiki kisah detektif? Apa mungkin kita buat cerita dengan tokoh pohon kaktus yang bisa menyanyi? Saya hanya berpatok pada syair khalil gibran, bahwa fantasi anak-anak itu bisa melompat kemana-mana, tanpa batas.

Sejak itu saya makin menyukai penulisan cerita anak. Soalnya bisa menulis apa saja yang saya mau, meski kadang 'nggak masuk akal'. Cuma, untuk membuat cerita kita 'jadi masuk akal', kita harus bikin yang namanya landasan cerita yang kuat. Misalnya Deni manusia ikan yang bisa ngomong sama ikan, lantaran sejak bayi tinggal di laut. Ini buat cerita yang bukan dongeng. Kalau dongeng sih, yah....buat saja sebebas-bebasnya. Kita bisa bikin kakek-kakek berumur 600 tahun dengan keriput tiga lipat di dahinya saja dan masih punya daya ingat pentium4.

Nah, jadi ga usah ragu berfantasi. Soal logika, kalo kita punya dasar, alasan, pendukung yang kuat.... ga perlu ragu.

6. Bermain Dengan Setting
Saya mau memaparkan sekilas mengenai pengalaman bermain dengan setting saat menulis bacaan anak. Pada awal menulis anak, saya sejujurnya agak bingung. Kok, dari 8 cerita yang dibuat semua mengambil setting (lokasi) di sekolah dan di rumah, ya? Hehehe, maklum... waktu itu masih 3 SMP, jadi yang melekat dalam referensi pengalaman melulu hanya sekolah dan rumah. Karena ingin ada variasi dalam cerita yang saya buat, maka saya mulai membaca dengan seksama buku-buku cerita anak yang mengabil setting lokasi , selain di sekolah dan rumah. Wah, ternyata banyak sekali pilihannya.

Akhirnya saya mulai 'melirik' setting yang lainnya. Di trem yang ada di negeri Paman Sam, lorong-lorong kota, pasar, jembatan, tempat les, kolam renang, tujuan wisata... biasanya saya paling suka dengan setting out door. Alasannya, saya pengen si pembaca ikut tertarik bergerak juga (soalnya anak kutu buku stereo type sebagai anak yang nggak suka olah raga, gak suka bermain, anti sosial). Makin lama saya jadi terbiasa bermain-main dengan setting lokasi untuk variasi cerita bacaan anak. Ada beberapa trik yang biasa saya lakukan saat bermain dengan setting lokasi ini:

1. Menentukan setting lokasi kemudian mencari cerita yang sesuai: misalnya saya ingin menulis cerita berseting air terjun.... saya mulai merunut pada hal yang terkait dengan lokasi tersebut. Misalnya saja anak-anak asongan di lokasi air terjun, lalu mencari konflik. Seperti, si anak asongan menemukan barang berharga milik pengunjung, dan seterusnya.
2. Mencari cerita kemudian menempelkan pada setting: misalnya saja saya ingin menulis cerita tentang kebiasaan buruk anak,seperti mencela orang lain. Karena yang seperti ini bisa terjadi dimana saja, maka saya bisa menempelkannya pada lokasi yang jarang saya garap, misalnya di lokasi studio iklan karena si tokoh kebetulan bintang iklan.
3. Setting yang umum: saya jarang mendeskripsikan secara detail setting lokasi yang umum, seperti sekolah, pasar, rumah sakit, dan sejenisnya. Ada beberapa masalah yang sering kita temui jika menulis dengan detail:
* saya ingin membebaskan fantasi anak. mungkin si anak akan memayangkan figur sekolahnya sendiri, atau pasar di dekat rumahnya.
* ruang yang terbatas untuk menuliskan deskripsi.
* kadang ilustarsi yang dibuat tidak sesuai teks cerita.
4. Setting khusus: untuk lokasi tertentu seperti candi borobudur, pesawat ruang angkasa, justru saya selalu berusaha membuat deskripsi dengan rinci. Karena tidak semua anak tau setting tersebut, sehingga kita bisa membantu menggiring fantasi mereka dengan kata-kata.

Itu saja dulu, ya, coretan singkat soal setting (lokasi). Silakan kalau ada yang mau menambahkan atau mendiskusikannya.

7. Menyiasati Menyisip Pesan Moral
Ada hal penting sebagai penulis bacaan anak, yang saya anggap sebagai suatu tanggung jawab kepada pembaca, yakni upaya menyampaikan pesan moral. Cuma yang jadi masalah, pembaca tentunya tidak mau digurui atau diceramahi melalui tulisan yang kita buat. Karena saya selalu berusaha menyiasati cara menyisipi pesan moral, agar si anak-anak yang membaca tidak merasa jengah karena diceramahi.

Ada beberapa catatan yang saya pegang sampai sekarang:

1. Pesan moral sebaiknya dalam cerita yang dibuat tidak berupa dialog nasehat dari tokoh-tokoh keseharian yang memang sudah sering menasehati. Cerita model 'kena batunya', akan lebih mengena untuk menyisipkan pesan moral, ketimbang nasehat panjang.
2. Pesan moral yang diberikan sebaiknya jangan mengulang yang sudah sering disampaikan. Seperti jangan membolos, jangan mencuri.... Anak-anak yang membaca akan tidak tertarik membacanya.Mencari pesan moral berdasarkan penggalian terhadap pengalaman pribadi. Coba deh diingat-ingat. Banyak lho. Misalnya, doa buruk terhadap guru agar sakit sehingga lepas dari rencana ulangan besok.
3. Hati-hati dengan tokoh anak-anak, yang tiba-tiba jadi serba tahu dan 'sok tua'. Kecuali kalau memang itu sudah jadi karakter yang membangun cerita.
4. Dalam memberi nasehat, efek ganjaran (seperti menakut-nakuti) memang sering mengena. Namun sebaiknya juga jangan terlalu berlebihan. Misalnya, karena sekali mencuri seorang tokoh kemudian tangannya buntung.

8. Membuat Deskripsi, Hati-hati!
Teman-temin, saya mau berbagi cerita sedikit soal membuat deskripsi pada cerita anak yang kita buat. Bahwa menulis deskripsi pada cerita anak harus lebih banyak pertimbangannya. Hal ini saya petik setelah mengalami beberapa kejadian:

1. Saya pernah suatu kali membuat deskripsi secara detail tentang si tokoh. Berambut ikal dengan pita, dan sebaginya. Ternyata ketika diberi ilustrasi untuk cerita itu (gambar) kok jadinya tidak sesuai dengan yang kita uraikan. Kecewa sudah pasti, biarpun honor sudah pasti kita dapat karena cerita kita dimuat.

Karenanya saya selalu menghindari penulisan deskripsi yang berlebihan. Biasanya saya tulis yang universal. Dalam cerita pendek, hal ini dapat dengan mudah kita akali. Tapi kalau menulis novel/novelet, mungkin untuk lebih membuat padat tulisan, kita akan lebih sering bermain dalam deskripsi ini. Ya, syukur-syukur kalau ilustratornya benar-benar membaca naskah kita, sehingga tidak ada kekeliruan kelak.
2. Saya pernah pula bertanya pada anak-anak tentang deskripsi dalam sebuah cerita. Wah, ternyata mereka nggak begitu suka dengan deskripsi yang kelewat panjang. Jadi, saya selalu berhati-hati juga menyusun paragraf untuk deskripsi ini. Lebih dari tiga paragraf hanya untuk mendeskripsikan sesuatu, yakinlah... anak-anak akan melompatinya. Tentu saja kalau kita bisa memilih kata-kata yang mengundang minat untuk membacanya, lain soal.
3. Buatlah deskripsi sesuatu jika memang penting benar. Misalnya pasar, semua kan sudah tahu, bahwa pasar itu ramai, bau amis, becek.... jadi tak usah terlalu detail. Kecuali kalau kita mendeskripsikan rumah kita di planet Venus.

Thanks

Benny Rhamdani
Silahkan bergabung di Milis Penulis-Bacaan Anak

Selengkapnya...
Posted 10:24 PM by YNa | 0 comments